Rabu, 19 September 2012

02. Gelar Jepang Universitas Indonesia (GJUI)



Hari itu, aku pergi ke j-fest (Japan/Japanese festival) GJUI (Gelar Jepang Universitas Indonesia) sendirian. Teman-temanku  dari Bekasi yang biasa bersama denganku saat di j-fest tidak datang. Aku datang sendirian seperti orang bodoh, tengok kanan-kiri, kesepian di antara keramaian pengunjung GJUI. Untunglah kemudian aku bertemu dengan teman SMA-ku dulu yang suka datang ke j-fest juga. Kami mengobrol sebentar, lalu berpisah. Aku tidak enak mengobrol terlalu lama dengannya karena ia bersama dengan teman-teman kampusnya. Aku takut mengganggu. Namun, untungnya setelah beberapa menit kemudian, aku bertemu dengan temanku yang lain di sana. Dia adalah Anji, orang yang dulu secara tidak langsung meng-influence-ku akan band dari Jepang bernama V.P.Q. Di kaosnya yang sedang ia pakai sekarang pun terpampang tulisan dan logo V.P.Q, Aku takjub melihatnya, secara V.P.Q adalah band Jepang terfavoritku. Kami lalu mengobrol beberapa saat. Kemudian, aku putuskan untuk bersama dengan Anji selama di GJUI. Daripada aku sendirian di sana, tentu lebih baik aku bersama teman.

Waktu menjelang sore hari. Aku memutuskan untuk memakai jaketku yang seperti gakuran (seragam sekolah di Jepang). Kebetulan, Anji sakit perut dan memintaku untuk mengantarnya ke toilet di dekat area GJUI. Hal ini bisa aku manfaatkan untuk berganti kostum pula di toilet, pikirku. Lalu, aku pun mengantarnya ke toilet. Jarak toilet tersebut tidak terlalu jauh. Hanya sekitar dua menit, kami telah sampai di toilet yang dituju. Anji pun segera masuk ke toilet tersebut. Sementara ia sibuk membuang hajatnya, aku berganti kostum di depan pintu toilet. Tidak lupa, aku sematkan juga pin V.P.Q berukuran besar di bagian dada kiri jaketku.  Beberapa menit kemudian, Anji keluar dari toilet, dan kami pun segera beranjak ke area utama GJUI lagi.

01. Wanita yang Akan...



Sehelai Flyer



Minggu, 26 Juni 2011, UI, aku tidak membayangkan sama sekali jika pada hari itu aku akan bertemu dengan seseorang yang akan memenuhi pikiran dan perasaanku untuk hari-hari ke depan. Wanita yang akan membuatku merasakan indahnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Wanita yang akan menyita alam pikiran sadar dan bawah sadarku untuk memikirkannya, terus-menerus. Wanita yang akan membuatku terdiam melamun di saat aku berada di dalam kesepian maupun keramaian. Wanita yang akan selalu kutunggu kehadirannya pada setiap kesempatan. Wanita yang akan memaksaku merasakan kegalauan yang berkepanjangan. Wanita yang akan membuatku menitikkan air mata di saat sebelum aku jatuh tertidur, saat aku mendengarkan lagu favoritku sambil melihat foto dirinya. Dan tentunya, wanita yang membuatku ingin menulis kisah ini dan membaginya kepada siapapun. Dia adalah wanita yang mampu membuat aku jatuh cinta yang belum pernah aku rasakan sedalam ini sebelumnya. Ya, aku benar-benar telah jatuh cinta. 

Minggu, 16 September 2012

00. Prologue

 Prologue


Gue R. Iya, itu inisial dari nama gue. Di sini gue mau sharing tentang kisah percintaan gue. Semua kisah yang gue tulis di sini adalah fakta kehidupan yang gue alami, tapi gue mengganti semua nama asli orang, band, maupun komunitas yang ada dalam kehidupan nyata dengan nama ‘samaran’ maupun inisial. Sedangkan, untuk nama tempat dan lain-lainnya, nggak gue ganti alias asli.

Sebelum lo baca postingan tentang kisah percintaan gue ini, gue mau ngasih tau sedikit bocoran biar nggak nyesel karena udah capek-capek atau menyisihkan waktu buat membaca postingan-postingan gue selanjutnya. Kisah percintaan ini bisa dibilang sebuah kisah percintaan yang bodoh, atau aneh, atau memalukan, atau menyedihkan, atau lebih tepatnya kisah percintaan seseorang yang pengecut atau... pecundang. Entah ini layak disebut kisah percintaan atau nggak. Tapi, yang jelas, sampai saat ini, saat gue tulis postingan ini, kisah ini masih berlanjut atau belum menemukan titik temu. Kalau diibaratkan anime atau TV series, kisah ini masih on-going.

Selain itu, bahasa yang gue pakai di kisah ini (pada postingan-postingan selanjutnya) adalah bahasa “aku-kamu” bukan “gue-lo” kayak yang gue tulis di postingan ini. Alasannya? Menurut gue, kisah percintaan itu lebih terasa feel-nya kalo ditulis dengan bahasa yang lebih halus, yaitu pakai “aku-kamu”. Jadi, jangan heran kalo bahasa yang gue tulis nanti agak puitis ya.. :)

Oke, cukup sekian penjelasannya. Sekali lagi, buat yang dari awal (dari saat lo baca postingan ini) udah nggak tertarik, gue saranin deh lo buat segera meninggalkan blog gue ini.  Dan, buat yang mau tau kisah gue ini, serta mau menyisihkan waktunya untuk membaca, silahkan pantengin blog gue ini. Dan tentunya, gue ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya. :D


Selamat membaca..